Yogyakarta, JETIS, Isue Nasional – Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta memperkuat kerja sama dengan perguruan tinggi dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran, kemahasiswaan, dan pembangunan kota. Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, hadir sebagai narasumber dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Kolaborasi Riset Pemerintah Kota Yogyakarta dengan Perguruan Tinggi Swasta Wilayah V LLDIKTI, yang digelar Senin (17/11) di Aula Universitas Janabadra.
Acara ini diikuti puluhan perguruan tinggi dan lembaga penelitian untuk membahas potensi riset yang mendukung pengembangan kampung tematik, Tri Dharma Perguruan Tinggi, dan Racana Tepat Jogja sebagai pedoman pembangunan inklusif dan berkelanjutan.
“Dengan membangun SDM yang berdaya, sejahtera, dan berbasis potensi lokal kampung, Jogja bisa menjadi Center of Excellence dan Center of Referral di Indonesia,” kata Hasto. Ia menambahkan, posisi Yogyakarta sebagai kota pendidikan menjadikan kolaborasi akademik semakin strategis untuk menjawab tantangan pembangunan.
Pemkot telah menganggarkan beasiswa bagi 250 mahasiswa kurang mampu, dengan rencana peningkatan menjadi 500 penerima. Hasto mengimbau kampus untuk membantu mencarikan calon penerima. “Uangnya sudah tersedia, tapi penerimanya belum terpenuhi,” ujarnya.
Program One Village, One Sister University, One Sister Corporate juga diperkenalkan untuk memperkuat integrasi riset akademik dengan pembangunan 45 kampung tematik di Yogyakarta. Hasto menegaskan, pengelolaan SDM melalui riset dan inovasi akan menjadikan kota ini sebagai benchmark pembangunan di Indonesia.
Kepala Bappeda Kota Yogyakarta, Agus Tri Haryono, menambahkan, kualitas SDM menjadi kunci agar Yogyakarta bisa menjadi rujukan pembangunan bagi kota lain. Agus menekankan bahwa arah pembangunan kota telah jelas tertuang dalam RPJMD 2025–2029, yang menitikberatkan pada pembangunan manusia, infrastruktur, kemandirian ekonomi, tata pemerintahan, dan pemajuan nilai keistimewaan.
Capaian Kota Yogyakarta di 2024 menunjukkan hasil positif, antara lain Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 89,1, tertinggi secara nasional; pertumbuhan ekonomi 5,05%; kemiskinan 6,26%, di bawah rata-rata nasional; dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) 5,8%. Namun, Gini Ratio 0,449 menunjukkan kesenjangan yang perlu ditekan. Data ini menjadi acuan penting bagi kampus untuk menentukan fokus riset yang relevan dengan kebutuhan kota.
Kepala LLDIKTI Wilayah V, Prof. Dr. Setyabudi Indartono, menekankan pentingnya riset dan publikasi sebagai kontribusi nyata kampus kepada masyarakat. Ia mengingatkan tantangan dosen dalam memenuhi Tri Dharma Perguruan Tinggi, termasuk proses peningkatan jabatan fungsional. Dari 3.200 dosen tenaga pengajar dan asisten ahli di wilayah LLDIKTI V, baru sepertiga yang telah memenuhi persyaratan peningkatan jabatan.
LLDIKTI membuka peluang pendanaan riset prioritas dan strategis hingga Rp 2 miliar per tahun, dengan syarat kolaborasi bersama pemerintah daerah. “Kami berharap forum ini menjadi titik awal yang berkelanjutan. Dosen dan kampus perlu memahami arah pembangunan jangka menengah agar riset bisa benar-benar down to earth,” pungkas Setyabudi.
Sumber : warta.jogjakota.go.id

