Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Wisata
Facebook X (Twitter) Instagram
  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Kode Etik
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest Vimeo
Isue Nasional – AKtual,Informatif,TerpercayaIsue Nasional – AKtual,Informatif,Terpercaya
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Wisata
Subscribe
Isue Nasional – AKtual,Informatif,TerpercayaIsue Nasional – AKtual,Informatif,Terpercaya
Beranda » Kebijakan Publik Bukan Alat Kekuasaan, Tegas Gabriel Lele
Berita Unggulan

Kebijakan Publik Bukan Alat Kekuasaan, Tegas Gabriel Lele

IsueNasionalBy IsueNasionalJuni 5, 2025Tidak ada komentar3 Mins Read
Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
Gabriel Lele bersama Istri sebelum pengukuhan(Foto: Herman)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Kilasinformasi.com, YOGYAKARTA – Prof. Dr. Phil. Gabriel Lele, S.IP., M.Si., dosen Departemen Manajemen dan Kebijakan Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Gadjah Mada (UGM), resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Tata Kelola Kebijakan Publik, Kamis (5/6), di Balai Senat UGM.

Dalam pidato pengukuhan berjudul “Democracy Beyond Election: Kebijakan Publik Agonistik sebagai Agenda Transformasi”, Prof. Gabriel menyoroti pentingnya membangun demokrasi yang tidak hanya berhenti pada prosedur elektoral, melainkan terus hidup dalam proses kebijakan publik yang transformatif dan berpihak pada warga.

“Demokrasi tidak boleh berhenti pada pemilu, tetapi mesti hidup dalam kebijakan publik sebagai ruang perjumpaan yang setara antarwarga,” tegasnya.

Foto: Herman

Kritik terhadap Kebijakan Publik yang Elitis dan Eksklusif

Prof. Gabriel mengungkapkan bahwa kebijakan publik di Indonesia sering kali menjelma menjadi paradoks: alih-alih menyelesaikan persoalan, justru memunculkan konflik-konflik baru. Ia mencontohkan berbagai kebijakan kontroversial seperti pemindahan Ibu Kota Negara, program Makan Bergizi Gratis, pembentukan Koperasi Merah Putih, hingga proyek strategis nasional (PSN) lainnya.

Menurutnya, kebijakan semacam itu mencerminkan kecenderungan untuk menutup ruang partisipasi publik dan mengabaikan keberagaman suara warga.

“Kebijakan publik tidak boleh menjadi alat kekuasaan yang membungkam, tapi harus menjadi arena perbedaan yang setara,” ujarnya.

Tiga Patologi Kebijakan Publik

Lebih lanjut, ia mengidentifikasi tiga patologi dalam praktik kebijakan publik nasional, yakni:

  1. Populisme: kebijakan yang memanfaatkan sentimen massa tanpa mempertimbangkan pluralitas,
  2. Otoritarianisme: dominasi kekuasaan yang mengabaikan partisipasi,
  3. Penyeragaman kebijakan: menghapus keragaman lokal dan konteks sosial.

Gabriel menekankan bahwa cara pandang yang menolak konflik dan keberagaman ini berbahaya bagi demokrasi. Masyarakat sering diposisikan sebagai objek pasif alih-alih subjek aktif dalam proses pengambilan keputusan.

“Kebijakan publik sering disusun dalam ruang tertutup, padahal harusnya menjadi ruang terang tempat semua suara bisa didengar,” ungkapnya.

Baca Juga, Kilasinformasi: Uji Coba Helikopter Mendarat di Kantor Bupati Raja Ampat, Tingkatkan Akses Pelayanan Publik

Tawarkan Pendekatan Agonistik

Untuk menjawab tantangan tersebut, Prof. Gabriel menawarkan pendekatan agonistik—suatu kerangka yang mengakui konflik sebagai bagian esensial dari kehidupan demokratis. Alih-alih menolak perbedaan, pendekatan ini justru merayakannya sebagai sumber kekuatan dan inovasi dalam merumuskan kebijakan.

“Kita membutuhkan lebih banyak respectful conflict daripada konsensus semu,” katanya.

Ia juga menyoroti pergeseran makna dari “kebijakan publik” menjadi “kebijakan pemerintah”, yang menurutnya telah menyebabkan keterputusan antara rakyat dan proses pengambilan keputusan. Transformasi menuju model kebijakan yang lebih demokratis, menurutnya, tidak cukup dilakukan di level institusi, tapi juga harus menyentuh perubahan cara berpikir dan mengajar kebijakan itu sendiri.

Peran Strategis Universitas

Di akhir pidatonya, Prof. Gabriel mengajak universitas untuk mengambil peran strategis dalam membentuk ekosistem akademik yang kritis, plural, dan demokratis.

“Universitas harus menjadi arena multiversitas yang memupuk pluralitas tanpa kehilangan komitmen pada persatuan,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa pendidikan tinggi harus melahirkan lulusan yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga memiliki keberpihakan moral terhadap nilai-nilai kebebasan dan kesetaraan.

Tari penyambutan dari NTT setelah pengukuhan (foto: Herman]

Penguatan Posisi Akademik UGM

Ketua Majelis Dewan Guru Besar UGM, Prof. Dr. M. Baiquni, M.A., menyampaikan bahwa dengan pengukuhan ini, Prof. Gabriel Lele menjadi bagian dari 531 Guru Besar aktif di UGM, sekaligus memperkuat barisan 39 Guru Besar aktif di FISIPOL UGM.

“Capaian ini memperkuat posisi UGM sebagai pusat keunggulan akademik, khususnya dalam bidang tata kelola kebijakan publik,” ujar Prof. Baiquni. (Herman)

Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleResidivis Curanmor Beraksi Lagi di Batang, Polisi Ungkap Aksi Terencana dalam 48 Jam
Next Article Pendopo Satuati dan VW Campervan “Big Boss” Hadirkan Pengalaman Wisata Unik di Lereng Merapi
IsueNasional
  • Website

Related Posts

Berita Unggulan

Wali Kota Dumai Dorong Penguatan Karakter Siswa Lewat Program Tahfidz Al-Qur’an di Sekolah

April 20, 2026
Berita Unggulan

Perempuan Buleleng Gerakkan Aksi Bersih Pantai, Wujudkan Semangat Kartini untuk Lingkungan

April 20, 2026
Berita Unggulan

Diaspora Banyuwangi Jadi Motor Ekonomi Daerah, Ikawangi Siap Dorong Investasi dan Pariwisata

April 20, 2026
Add A Comment

Comments are closed.

Berita Terbaru

KEHANGATAN DAN KERUKUNAN MEWARNAI SYAWALAN SEKAR TANJUNG COMMUNITY DI LOSDANON  

April 20, 2026 Daerah

Cegah Radikalisme – Perkuat Wawasan Kebangsaan, Kesbangpol _Goes to School_ Hadir di SMPN 4 Sentolo

April 20, 2026 Daerah

BNNP DIY dan Pemkab Kulon Progo Pererat Koordinasi Institusional Berantas Narkoba

April 20, 2026 Daerah
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Populer

Perkuat Sinergi, Mandiri Utama Finance Gelar Employee Gathering “Unity To Glory” di Yogyakarta

Februari 10, 2026226 Views

Syawalan Trah HB II: Meneladani Kegigihan Sultan Melawan Penjajah dan Komitmen Budaya

April 13, 2026160 Views

Jaga Tradisi Leluhur, Ratusan Trah Sultan HB II Gelar Nyadran di Makam Raja-Raja Kotagede

Februari 8, 2026136 Views
Terbaru

KEHANGATAN DAN KERUKUNAN MEWARNAI SYAWALAN SEKAR TANJUNG COMMUNITY DI LOSDANON  

April 20, 2026

Cegah Radikalisme – Perkuat Wawasan Kebangsaan, Kesbangpol _Goes to School_ Hadir di SMPN 4 Sentolo

April 20, 2026

BNNP DIY dan Pemkab Kulon Progo Pererat Koordinasi Institusional Berantas Narkoba

April 20, 2026
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Kode Etik
© 2026 isuenasional.com

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.