Langkat, isuenasional.com – Musibah banjir yang melanda Desa Sangga Lima, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, tidak memadamkan semangat gotong royong warganya. Bersama pemerintah desa, masyarakat bahu-membahu menangani kondisi darurat sekaligus memulihkan kehidupan sosial, termasuk mengembalikan keceriaan anak-anak yang terdampak bencana.
Kepala Desa Sangga Lima, Ramadhan Akbar, mengatakan sejak banjir melanda, pemerintah desa bersama warga langsung bergerak memastikan keselamatan masyarakat, melakukan pendataan, serta mengarahkan warga ke titik kumpul dan lokasi aman yang telah disiapkan. Dari delapan dusun di Desa Sangga Lima, hanya Dusun Dua yang tidak terdampak banjir dan menjadi lokasi pengungsian utama karena berada di wilayah yang lebih tinggi.
Selain fokus pada keselamatan, warga juga saling membantu mengamankan kebutuhan dasar. Berbagai sumber daya dikerahkan, termasuk pengumpulan bahan makanan dan distribusi bantuan logistik berupa beras dan minyak goreng yang dipusatkan di Balai Desa. Menurut Ramadhan Akbar, seluruh potensi desa dimaksimalkan agar masyarakat dapat bertahan di tengah situasi sulit.
Memasuki masa pascabanjir, kondisi desa mulai berangsur pulih. Setelah sekitar dua pekan, aktivitas di posko pengungsian dihentikan dan warga kembali ke rumah masing-masing meski masih menyisakan bekas genangan. Pemerintah desa terus memastikan kondisi lingkungan aman dan mendorong warga untuk kembali menjalani aktivitas sehari-hari.
Dalam proses pemulihan tersebut, Desa Sangga Lima mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk Kementerian Komunikasi dan Digital melalui program Mobil Dukungan Psikososial. Kehadiran program ini dinilai sangat membantu, terutama bagi anak-anak yang selama banjir mengalami keterbatasan belajar dan bermain akibat terputusnya akses sekolah selama hampir tiga minggu.
Sekitar 100 anak usia sekolah dasar mengikuti kegiatan psikososial di Balai Desa. Awalnya tampak malu dan pasif, anak-anak perlahan kembali tersenyum saat diajak bermain, mendengarkan dongeng, bernyanyi, menari, dan mengekspresikan perasaan mereka. Kegiatan ini dipandu oleh fasilitator dari Pusat Pelayanan Psikologi Pada Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Ramadhan Akbar menilai kegiatan tersebut mampu mengangkat kondisi psikologis anak-anak yang sempat tertekan akibat banjir. Hal senada disampaikan guru SD Negeri 054946 Sangga Lima, Reza Paulika Meliala, yang melihat antusiasme dan semangat belajar anak-anak kembali tumbuh setelah mengikuti kegiatan tersebut.
Keceriaan juga dirasakan Muhammad Albian, siswa kelas lima yang sempat mengungsi ke masjid saat banjir melanda. Ia mengaku senang bisa kembali berkumpul dan bermain bersama teman-temannya setelah mengikuti kegiatan melukis dan mewarnai yang digelar.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Kabupaten Langkat menjadi salah satu wilayah dengan dampak banjir terparah di Sumatra Utara, dengan 16 kecamatan terdampak. Hingga hari ke-20 pascabanjir, masih terdapat lebih dari seribu warga yang mengungsi, meski sebagian besar telah kembali ke rumah masing-masing.
Upaya pemulihan di Langkat tidak hanya difokuskan pada perbaikan infrastruktur, tetapi juga pada pemulihan sosial dan psikososial masyarakat. Kehadiran Mobil Dukungan Psikososial Komdigi di Desa Sangga Lima menjadi bagian penting dari upaya tersebut, memastikan anak-anak penyintas banjir memiliki ruang aman untuk pulih, kembali ceria, dan menata harapan ke depan.
Sumber : infopublik.id

