Aceh Besar, isuenasional.com — Suasana hangat dan penuh keakraban menjadi pemandangan sehari-hari di Asrama Putri Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 1 Aceh Besar. Di balik kenyamanan itu, ada sosok yang menjadi tempat pulang bagi puluhan remaja: Lina Maulidina Marza, atau yang akrab disapa Bunda Lina. Dengan caranya yang sederhana namun menyentuh, ia menghadirkan ruang aman bagi 65 anak asuhnya melalui sebuah kegiatan bernama “amplop kebahagiaan”.
Berpengalaman sebagai Pendamping Rehabilitasi Sosial, Bunda Lina terbiasa mendengar cerita anak dalam waktu singkat. Namun tugasnya kini jauh lebih besar—mengasuh dan membimbing remaja dengan latar kehidupan yang tidak mudah. Malam hari, ia kerap duduk di tepi ranjang, mendengarkan keluh kesah seorang siswi yang datang dengan mata sembab. Menurutnya, itulah jam kerja sesungguhnya.
Untuk mempererat hubungan antaranak, ia membuat kegiatan amplop kebahagiaan berisi apresiasi antar teman. Ketika amplop dibuka, banyak yang menangis haru. “Mereka terharu karena baru tahu temannya melihat sisi baik mereka. Validasi kecil begitu sangat berarti,” ujar Bunda Lina.
Salah satu momen paling membekas adalah ketika seorang anak berbisik lirih, “Bunda boleh tidak ganti ibu saya?” Anak itu ternyata lahir dari keluarga yang berkonflik. Bagi Bunda Lina, pertanyaan itu menggambarkan besarnya kerinduan anak terhadap kasih sayang.
Selama empat bulan bekerja, ia belajar bahwa cinta tidak harus megah. Kadang cukup duduk mendengarkan keluh kesah, memberikan pelukan, atau mengingatkan anak bahwa mereka berharga. “Bila anak-anak ini tidak dapat kasih sayang, bagaimana ketika kelak mereka menjadi ibu atau ayah? Itu yang kami ajarkan,” katanya.
Meski awalnya ragu menjalani peran sebagai wali asrama, keraguan itu perlahan hilang ketika ia mengenali wajah dan kisah anak-anak yang pernah ia asesmen sebelumnya. Dari situlah semangatnya tumbuh. Baginya, peran wali asrama bukan sekadar mengurusi fasilitas, tetapi membentuk karakter, kedisiplinan, dan rasa aman.
Jadwal piket yang padat membuat ritme hidupnya berubah. Dua hari menginap, satu hari penuh bekerja, lalu sehari berjaga hingga pagi. Waktu bersama keluarga pun berkurang, namun suaminya mendukung sepenuhnya. “Beliau tahu saya senang dengan anak-anak,” ujarnya.
Perubahan anak-anak mulai terlihat nyata. Anak yang dulu menunduk kini menyapa dengan salam. Anak yang dulu sinis kini belajar tersenyum dan memeluk. Ia teringat seorang anak dengan wajah datar dan nada dingin, namun berubah setelah ia memuji kerapian kamarnya. “Besoknya dia mulai menyapa. Hari ini sudah memeluk,” tuturnya tersenyum.
Ada pula cerita seorang anak laki-laki yang hampir dikeluarkan karena ketahuan merokok. Alih-alih hukuman, sekolah memberikan gitar dan permen sebagai pengalih. Kepercayaan dirinya tumbuh, dan rokok perlahan ia tinggalkan.
Setiap malam saat piket, antrean anak datang hanya untuk menangis, bercerita, dan divalidasi perasaannya—hal sederhana yang jarang mereka dapatkan di rumah. “Yang mereka butuhkan itu sederhana. Dipeluk, didengar, dihargai. Mereka ingin merasa aman dan diakui,” ujar Bunda Lina.
Dari banyak percakapan, ia melihat benang merah yang sama: hampir semua membawa kekosongan kasih sayang. Banyak yang tumbuh dalam keluarga tidak harmonis, kehilangan orang tua, atau dibesarkan orang tua yang selalu bekerja. Karena itu, SRMA baginya bukan sekadar sekolah, melainkan ruang pemulihan yang membentuk kebiasaan baik dan rasa aman bagi anak-anak.
Sumber : Kemensos

