YOGYAKARTA | isuenasional.com – Di balik keriuhan Pasar Kuncen Yogyakarta, terdapat sebuah kisah inspiratif tentang keberanian memilih jalan hidup. Sosok tersebut adalah Ir. R. Bambang Suprantara Aribawa, atau yang akrab disapa Pak Bambang “Kacamata”, seorang pria yang membuktikan bahwa pengabdian tidak harus selalu berada di balik meja birokrasi.
Meskipun menyandang gelar Insinyur (S1) lulusan Yogyakarta tahun 1986, Pak Bambang memilih untuk tidak mengejar kursi jabatan atau posisi tinggi sebagai pejabat pemerintahan. Baginya, kemandirian dan kebebasan berekspresi di lapangan jauh lebih berharga daripada struktur formal yang kaku.
Meninggalkan Zona Nyaman Biroskrasi
Sebelum dikenal sebagai pedagang ikonik, Ir. R. Bambang memiliki rekam jejak profesional yang panjang di pemerintahan. Ia pernah mengabdi di Dinas Perkebunan & Kehutanan Provinsi D.I.Y. selama 25 tahun (1981–2006), serta di Dinas Perindustrian, Perdagangan & Koperasi (2006–2012).

Namun, jiwanya yang merdeka membawanya pada keputusan besar untuk mulai turun ke kaki lima sekitar tahun 2000. Ia bahkan memilih untuk pensiun dini pada tahun 2012 dari Dinas Pertanian Kota Yogyakarta untuk menekuni dunia klithikan secara total. Langkah ini didasari oleh kegemarannya sebagai kolektor yang melihat bahwa barang-barang lawasan memiliki “nyawa” dan sejarah yang patut dilestarikan.
Motor Pergerakan dan Organisasi
Jiwa kepemimpinan pria kelahiran Bantul, 15 Oktober 1960 ini sudah terasah sejak masa kuliah, di mana ia aktif di Himpunan Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian. Pengalaman organisasinya yang luas, mulai dari staf redaksi buletin hingga menjadi anggota Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), menjadi modal kuat saat ia terjun ke dunia pasar.

Pada tahun 2005, ia menginisiasi pembentukan organisasi pedagang klithikan di Yogyakarta. Sebagai sosok yang berpendidikan tinggi, ia berperan penting sebagai Pembina Pedagang Klithikan serta penggiat seni dan musik. Organisasi ini menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan nasib para pedagang saat terjadi relokasi besar-besaran dari kawasan Mangkubumi ke Pasar Kuncen di masa kepemimpinan Walikota Herry Zudianto.
Filosofi Menghidupkan Barang “Layu”
Bagi Pak Bambang, barang klithikan bukan sekadar komoditas. Ia memiliki keahlian khusus dalam merawat dan merestorasi barang yang sekilas terlihat tidak berharga menjadi barang bernilai tinggi.
“Barang klithikan itu kalau dapat yang bagus, kebanggaannya luar biasa. Contohnya kacamata Ray-Ban rusak; saya kondisikan lagi sampai seperti baru,” jelasnya. Ia memegang prinsip bahwa setiap barang yang dirawat dengan kasih sayang dan ketelatenan akan selalu menemukan penikmatnya sendiri.
Kemandirian dan Pengabdian Masyarakat
Di tengah situasi ekonomi yang fluktuatif, Pak Bambang menekankan bahwa bisnis klithikan adalah solusi nyata untuk kemandirian ekonomi. Selain berdagang, ia tetap aktif berkontribusi bagi masyarakat, terbukti dengan perannya sebagai anggota BAMUSKAL (Badan Musyawarah Kalurahan) Sabdodadi, Bantul periode 2024–2032.
Pesan kuat yang ia sampaikan adalah tentang integritas. Baginya, kehormatan seseorang tidak ditentukan oleh jabatan yang ia duduki, melainkan oleh kerja keras, kejujuran, dan keberanian untuk menjadi tuan bagi dirinya sendiri.
( Red / Erwin)

