Close Menu
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Wisata
Facebook X (Twitter) Instagram
  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Kode Etik
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest Vimeo
Isue Nasional – AKtual,Informatif,TerpercayaIsue Nasional – AKtual,Informatif,Terpercaya
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Wisata
Subscribe
Isue Nasional – AKtual,Informatif,TerpercayaIsue Nasional – AKtual,Informatif,Terpercaya
Beranda » Menyulam Gerak, Menarikan Zaman:  I Wayan Dana Purna Tugas dari Intitut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta
Daerah

Menyulam Gerak, Menarikan Zaman:  I Wayan Dana Purna Tugas dari Intitut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta

IsueNasionalBy IsueNasionalMei 6, 2026Updated:Mei 7, 2026Tidak ada komentar6 Mins Read
Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

YOGYAKARTA | isuenasional.com— Pelepasan purna tugas biasanya identik dengan acara formal penuh sambutan dan seremoni. Namun suasana berbeda justru terasa di Concert Hall ISI Yogyakarta, Selasa (5/5/2026), saat Prof. Dr. I Wayan Dana, S.ST., M.Hum resmi memasuki masa purna tugas. Yang hadir bukan sekadar acara perpisahan seorang dosen, melainkan sebuah perayaan seni, budaya, persahabatan, dan penghormatan terhadap perjalanan panjang seorang maestro tari Indonesia.

Mengusung tema “Menyulam Gerak, Menarikan Zaman”, acara itu menjadi cerminan perjalanan hidup Prof. I Wayan Dana sendiri: tenang, reflektif, tetapi tetap penuh energi kreatif. Sejak siang hari, Concert Hall ISI Yogyakarta dipenuhi dosen, mahasiswa, seniman, budayawan, hingga sahabat dari berbagai daerah. Banyak yang datang bukan hanya untuk menghadiri acara resmi, tetapi untuk mengenang sosok guru yang selama puluhan tahun menjadi bagian penting perkembangan seni pertunjukan Indonesia.

Foto : guru besar ISI

Bagi banyak orang, Prof. I Wayan Dana bukan sekadar akademisi. Ia dikenal sebagai sosok yang mampu menjembatani tradisi dengan kehidupan modern tanpa kehilangan akar budaya. Dalam kelas, diskusi, maupun proses kreatif, ia selalu menekankan bahwa seni bukan hanya soal teknik dan estetika, tetapi juga tentang cara manusia menjaga identitas dan nilai budaya.

Rektor ISI Yogyakarta, Dr. Irwandi, M.Sn, dalam sambutannya menyebut Prof. Dana sebagai salah satu figur penting dalam perjalanan kampus seni tersebut. “ISI Yogyakarta sungguh berbangga memiliki sosok seperti Prof. Dana. Semoga purna tugas bukan akhir perjalanan berkarya, tetapi menjadi tonggak baru untuk terus berkontribusi bagi seni dan pendidikan,” ujarnya memberi pesan.

Ucapan itu terasa mewakili banyak orang yang pernah menjadi murid, kolega, maupun sahabat diskusi Prof. I Wayan Dana. Sosoknya dikenal rendah hati, terbuka, dan konsisten menjaga tradisi tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Mantan mahasiswa sekaligus koleganya yang kini menjadi Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta, Dr. Nyoman Cau Arsana, S.Sn., M.Hum, menyebut Prof. Dana sebagai jembatan antara teori dan praktik seni. “Beliau aktif menari, mencipta, meneliti, menulis, sekaligus mengajar. Konsistensinya itulah yang membuat namanya dihormati lintas generasi,” ungkapnya penuh haru.

Suasana acara pun terasa hangat sejak awal. Di berbagai sudut gedung, para tamu terlihat berbagi cerita tentang pengalaman mereka bersama Prof. Dana. Ada yang mengenang masa kuliah, proses latihan tari, hingga perjalanan pentas bersama di berbagai daerah.

Sajian Tari Menjadi Penghormatan Akhir

Acara pelepasan ini sendiri merupakan kolaborasi lintas unit di ISI Yogyakarta, mulai dari Jurusan Seni Tari, Tata Kelola Seni, hingga Program Pascasarjana. Kolaborasi itu terasa simbolis karena Prof. I Wayan Dana selama ini memang dikenal melampaui batas disiplin. Ia tidak hanya berbicara soal tari, tetapi juga pendidikan, tata kelola seni, hingga pemikiran budaya.

Begitu acara dimulai, suasana Concert Hall berubah khidmat. Tata panggung sederhana dengan pencahayaan hangat menghadirkan nuansa intim seperti perjalanan mengenang seorang guru.

Foto : tari Sekar pudyastuti

Rangkaian pertunjukan tari menjadi bagian paling memikat malam itu. Tari “Sekar Pudyastuti” sebagai persembahan pembuka dari Jurusan Tari ISI Yogyakarta tampil mengawali acara dengan gerak lembut dan penuh keteduhan. Setiap detail geraknya terasa seperti ungkapan hormat bagi seorang maestro yang telah mengabdikan hidupnya pada dunia seni.

Foto : tari topeng pengelembar keras

Suasana kemudian berubah lebih dinamis lewat Tari Topeng “Pangelembar Keras” yang dibawakan Francis El Nathan Hardianto, penari cilik berusia 11 tahun didikan Prof. Dana. Penampilan itu seolah menjadi simbol estafet budaya dari generasi lama menuju generasi baru.

Foto : tari janger Abhinaya

Penonton lalu dibawa pada suasana meriah melalui Tari “Janger Abhinaya”, garapan Ni Kadek Rai Dewi Astini, M.Sn dengan iringan Dr. Nyoman Cau Arsana, S.Sn., M.Hum. Aroma kuat budaya Bali terasa memenuhi ruangan, mengingat perjalanan artistik Prof. I Wayan Dana memang tak lepas dari akar budaya Pulau Dewata.

Di sela acara, suasana cair lewat penampilan duo komedian “Double S”, yaitu Dra. Trisno Tri Susilowati, S.Sn., M.Sn dan Dr. Trisna Pradipta Putra, S.Sos., M.M. Banyolan segar tentang kehidupan dosen, perjalanan akademik, hingga fenomena kekinian sukses membuat tamu undangan tertawa lepas.

Foto : double S

Namun puncak emosional hadir ketika Prof. I Wayan Dana sendiri naik ke atas panggung. Di usia 70 tahun, ia membawakan Tari “Baris Solo” (Tunggal) yang terinspirasi dari tari sakral Baris Gede Bali yang biasa ditarikan 12-20 orang. Geraknya memang tak lagi secepat masa muda, tetapi justru di situlah kekuatannya. Setiap langkah terasa menyimpan pengalaman panjang, ketekunan, dan cinta yang mendalam terhadap seni.

Foto : tari baris solo

Penonton terdiam. Beberapa terlihat menahan haru. Tari itu bukan lagi sekadar pertunjukan, tetapi seperti refleksi perjalanan hidup seorang seniman yang telah mendedikasikan dirinya bagi kebudayaan.

Buku 70 Tahun Berkarya

Momentum purna tugas itu juga ditandai peluncuran buku “Menyulam Gerak, Menarikan Zaman: Persembahan 70 Tahun Prof. Dr. I Wayan Dana, S.ST., M.Hum.” Buku tersebut ditulis oleh 44 penulis dari berbagai latar belakang, mulai akademisi, seniman, budayawan, sahabat, hingga murid-muridnya.

Foto : penyerahan buku

Lewat buku itu, pembaca dapat melihat luasnya pengaruh Prof. Dana dalam dunia seni pertunjukan Indonesia. Ada yang menulis tentang keteladanannya sebagai dosen, pemikirannya tentang tradisi dan modernitas, hingga sisi personalnya sebagai sahabat diskusi yang hangat.

Selain buku, diluncurkan pula “Katalog Anotasi I Wayan Dana,” yang memuat dokumentasi karya,

pemikiran, dan perjalanan akademiknya selama puluhan tahun. Bagi dunia akademik seni, dokumentasi seperti ini menjadi penting karena jejak pemikiran budaya sering kali tercecer dan hilang bersama waktu.

Koordinator Program Studi Magister Tata Kelola Seni ISI Yogyakarta, Dr. Mikke Susanto, M.A, menyebut Prof. Dana sebagai sosok lengkap: pengajar, seniman, sekaligus pemikir budaya. “Beliau adalah sumber pengetahuan dan tempat belajar mengenai budaya tradisi dan kebhinekaan,” katanya mengenang.

Salah satu hal yang membuat Prof. I Wayan Dana begitu dihormati adalah cara pandangnya terhadap tradisi. Di tengah perdebatan antara seni tradisi dan modern, ia justru menunjukkan bahwa keduanya tidak perlu dipertentangkan. Tradisi, baginya, bukan benda mati yang disimpan di museum, tetapi sesuatu yang harus hidup dan terus berdialog dengan zaman.

Karena itu, dalam karya maupun pemikirannya, Prof. Dana selalu berusaha menghadirkan tradisi agar tetap relevan dengan kehidupan hari ini. Sikap itu menjadi penting terutama bagi generasi muda yang hidup di tengah arus budaya populer global.

Purna tugas mungkin menandai berakhirnya masa pengabdian formal di kampus. Namun bagi seorang seniman dan guru besar seperti Prof. Dr. I Wayan Dana, S.ST., M.Hum., warisan gagasan tak pernah benar-benar selesai. Ia akan terus hidup lewat karya, murid-muridnya, serta nilai budaya yang telah ia tanamkan selama puluhan tahun.

Di akhir acara, tepuk tangan panjang menggema memenuhi Concert Hall, ISI Yogyakarta. Banyak yang berdiri memberikan penghormatan terakhir kepada sang guru besar. Yang terasa malam itu bukanlah perpisahan, melainkan kesinambungan. Bahwa gerak yang telah disulam selama puluhan tahun itu akan terus menari dalam perjalanan seni dan kebudayaan Indonesia.

TEKS:

Ki Arya Pandhu

Budayawan, tinggal di Yogyakarta.

FOTO-FOTO:

Dok. Prodi Tata Kelola Seni, ISI Yogyakarta.

(Red / Johnson)

Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleANGKRINGAN MBAH WALIDI: SURGA KULINER TRADISIONAL DENGAN CITA RASA OTENTIK DI JANTUNG KOTA YOGYAKARTA  
Next Article Peringatan Harkitnas ke-118: RAPI DIY Gelar Apel Siaga Bencana, Perkuat Sinergi Relawan untuk Indonesia
IsueNasional
  • Website

Related Posts

Daerah

BANTUAN KAOS SERAGAM PENGANGKUT SAMPAH DAN KOSTUM HADROH DISERAHKAN, DUKUNG KEBERSIHAN DAN KELANGSUNGAN KEGIATAN BUDAYA WARUNGBOTO

Mei 8, 2026
Daerah

Hari Pertama Pelatihan Digital Marketing JOSS: Pemuda Masjid Ditargetkan Langsung Cetak Laba

Mei 8, 2026
Daerah

Sambut Hari Kebangkitan Nasional, “Pekan Budaya” Siap Digelar di Lodji Paris Yogyakarta

Mei 8, 2026
Add A Comment

Comments are closed.

Berita Terbaru

BANTUAN KAOS SERAGAM PENGANGKUT SAMPAH DAN KOSTUM HADROH DISERAHKAN, DUKUNG KEBERSIHAN DAN KELANGSUNGAN KEGIATAN BUDAYA WARUNGBOTO

Mei 8, 2026 Daerah

Hari Pertama Pelatihan Digital Marketing JOSS: Pemuda Masjid Ditargetkan Langsung Cetak Laba

Mei 8, 2026 Daerah

Sambut Hari Kebangkitan Nasional, “Pekan Budaya” Siap Digelar di Lodji Paris Yogyakarta

Mei 8, 2026 Daerah
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram
Populer

Perkuat Sinergi, Mandiri Utama Finance Gelar Employee Gathering “Unity To Glory” di Yogyakarta

Februari 10, 2026226 Views

Syawalan Trah HB II: Meneladani Kegigihan Sultan Melawan Penjajah dan Komitmen Budaya

April 13, 2026166 Views

Jaga Tradisi Leluhur, Ratusan Trah Sultan HB II Gelar Nyadran di Makam Raja-Raja Kotagede

Februari 8, 2026137 Views
Terbaru

BANTUAN KAOS SERAGAM PENGANGKUT SAMPAH DAN KOSTUM HADROH DISERAHKAN, DUKUNG KEBERSIHAN DAN KELANGSUNGAN KEGIATAN BUDAYA WARUNGBOTO

Mei 8, 2026

Hari Pertama Pelatihan Digital Marketing JOSS: Pemuda Masjid Ditargetkan Langsung Cetak Laba

Mei 8, 2026

Sambut Hari Kebangkitan Nasional, “Pekan Budaya” Siap Digelar di Lodji Paris Yogyakarta

Mei 8, 2026
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Kode Etik
© 2026 isuenasional.com

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.